Artikel

Android Box, Sebagai Media Pembelajaran

Oleh : Awanda Taufiqurrohman A., S.Pd.

Android Box, mendengar istilah tersebut apa yang anda bayangkan?. Android box merupakan salah satu hasil dari perkembangan teknologi dari abad 21 ini. Yap, teknologi ini masih tergolong baru, walaupun sebenarnya teknologi ini sudah ada sejak tahun 2014. Sebenarnya, teknologi ini adalah pengembangan dari Chromecast, tetapi didesain sedemikian rupa dan diberi OS (Operating System) Android. Karena terdapat OS didalamnya maka, Android Box ini bisa berfungsi sebagai media player dan selayaknya MINI PC atau Smartphone Android anda. Anda dapat menggunakan aplikasi Youtube, Iflix, dan media streaming lainya dapat diunduh di Playstore.

Android Box memiliki spesifikasi yang bermacam-macam, yaitu (1) memiliki processor yang berinti ganda sampai yang berinti empat atau biasa disebut quadcore, (2) memiliki RAM (Random Acces Memory) 2GB sampai 4GB, (3) memiliki penyimpanan internal 8GB sampai 32GB bergantung dari perusahaanya ingin mendesain perangkatnya dengan spesifikasi seperti apa. Spesifikasi tersebut juga bergantung harganya, semakin bagus spesifikasinya, maka akan semakin mahal harganya. Alat ini juga sudah ada yang terintegrasi dengan Televisi, dengan sebutan SmartTV.

Pemanfaatan teknologi ini didalam dunia pendidikan masih kurang digunakan, bahkan alat ini memiliki potensi yang sangat inovatif sebagai media pembalajaran yang atraktif. Sehingga dapat menunjang kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menarik dan mengurangi kebosanan siswa. Android Box ini sudah coba di terapkan sebagai media pembelajaran di Sekolah kami. Kok bisa? Ya harus bisa, karena sekolah kami harus mempunyai inovasi yang dapat mengikuti perkembangan “abad 21”. Kenapa hal ini perlu? Karena inovasi sangat dibutuhkan untuk kegiatan belajar mengajar dikelas. Hal ini dilakukan agar kita dapat mengikuti arah perkembangan jaman, yang saat ini bergerak kearah teknologi dan informasi, apalagi anak sekarang disebut dengan generasi milenial. Untuk mewadahi generasi milenial tersebut maka diperlukan sebuah media pembelajaran yang berbasis pada teknologi informasi agar kegiatan dikelas tidak membosankan dan atraktif yang mana dapat menarik minat siswa untuk belajar. Penggunaan media tersebut didukung oleh pendapat Miarso (2004: 456) bahwa media adalah suatu hal yang dipakai untuk merangsang pikiran, kemauan dan perhatian peserta didik untuk mendorong kegiatan belajar. Pendapat tersebut juga didukung oleh pendapat Edgar Dale dalam  dalam bukunya yang berjudul “Audio-Visual Method in Teaching” dengan teorinya yang sangat terkenal yaitu “kerucut pengalaman Edgar Dale”, dalam kerucut tersebut penggunaan media yang atraktif seperti ini dapat mempengaruhi daya serap siswa menjadi lebih baik dalam menerima pelajaran.

Kerucut Edgar Dale:

Penerapan media ini di sekolah kami saat ini hanya pada kelas khusus saja, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan dikelas regular. Setelah penggunaan kurang lebih 3 bulan, terdapat perbedaan yang mencolok Antara kegiatan belajar mengajar tanpa menggunakan media dengan yang menggunakan media. Perbedaan tersebut yang pertama adalah, siswa jadi lebih tertarik dengan materi dan mata pelajaran yang di ajarkan. Kedua, guru dan siswa dapat lebih mudah mencari materi untuk kegiatan pembelajaran. Ketiga, siswa menjadi lebih bisa menyerap materi yang di ajarkan, dikarenakan siswa tertarik dengan kegiatan belajar mengajar yang menggunakan media. Keempat, guru mempunya sebuah media yang dapat digunakan sebagai penyampai pesan atau materi kepada siswa.

Daftar Pustaka :

Miarso, Yusuf Hadi. (2004). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *